Sunday, 13 January 2019

Not Even Letting The World Destroy Our Smiles


Pernah ngga sih sewaktu pasangan atau orang di sekitar kita berperilaku buruk, kita langsung mengasumsikan kalau mereka itu sedang mencoba untuk menyakiti kita, mereka itu dengan sengaja berusaha untuk menghancurkan hidup kita, mereka bodoh, mereka sudah lama hanya mempermainkan kita. Kalau aku pernah sih.

Menariknya nih, anak kecil tuh tekadang juga sering berperilaku buruk bahkan dengan cara yang lebih menjengkelkan seperti: melempar-lempar barang, teriak-teriak, memukul dan bahkan sampai melontarkan kata-kata yang buruk. Namun, respons kita terhadap hal ini sangatlah unik yaitu: kita tetap tenang. Kita dengan lembut menangani kekacauan ini. Kita cenderung dan hampir secara tidak sadar, bertanya pada diri kita sendiri lima pertanyaan:
1. Mungkinkah mereka lelah? 2. Mungkinkah mereka lapar? 3. Mungkinkah mereka sedang sedih? 4. Mungkinkah seseorang menyakiti mereka?
5. Mungkinkah mereka membutuhkan pelukan?

Seberapa sering kita bersikap seperti ini ketika kita bersama sesama teman atau sesama orang dewasa, dan kepada pasangan kita pada khususnya. Biasanya kita langsung mengasumsikan mengapa mereka melakukan hal yang buruk: karena mereka adalah orang yang tidak baik, mereka berusaha menghancurkan kita, mereka membenci kita. Tetapi jika kita menggunakan cara yang sama seperti kita menginterpretasi sikap buruk anak kecil, kita akan melakukan sesuatu yang sangat berbeda. Sebelum mengasumsikan suatu hal, bertanyalah pada diri sendiri kita sendiri lima pertanyaan yang sama:
1. Mungkinkah mereka lelah?
2. Mungkinkah mereka lapar?
3. Mungkinkah mereka sedang sedih?
4. Mungkinkah seseorang menyakiti mereka?
5. Mungkinkah mereka membutuhkan pelukan?

Epik banget kalau mengingat bahwasanya kita hidup di dunia dimana kita terajarkan untuk menjadi begitu baik terhadap anak-anak; tentu saja akan lebih baik pula bila kita juga mencoba belajar untuk sedikit lebih bermurah hati terhadap sikap kekanak-kanakan orang lain.

Kedengarannya aneh emang pada awalnya, namun perlu kita ingat bahwa sebenarnya tidak ada orang dewasa yang benar-benar dewasa, selalu ada sisi kekanak-kanakan dalam diri mereka. Tetapi dengan melihat seseorang dengan pandangan seperti ini, mungkin, ini merupakan cara yang ampuh untuk membantu kita dalam menghadapi keburukan dari sikap orang lain.

Ketika orang-orang berperilaku jauh dari apa yang kita harapkan, kita langsung melabel sikap mereka dengan kata 'childish' namun justru tanpa sadar kita akan mengerti bahwa sikap 'childish' adalah sikap yang lazim ditemukan pada semua umat manusia.

Masa dewasa adalah sebuah fase yang sebenarnya tidak akan sempurna karena apa yang kita sebut dengan masa kecil sebetulnya berlangsung sepanjang hidup kita. Oleh karena itu, respons-respons yang kita berikan terhadap sikap anak kecil semestinya harus juga menjadi respons yang relevan ketika kita berhadapan dengan sikap orang dewasa lainnya.

Berbijaksana terhadap 'inner child' orang lain bukan berarti memperlakukan mereka seperti anak kecil. Berbijaksana berarti, dengan hati yang lembut, menerjemahkan hal-hal yang mereka katakan menjadi arti yang lebih dalam seperti: 'Brengsek ya kamu' sebenarnya bisa saja menjadi cara mereka untuk mencoba mengatakan 'Aku merasa jenuh di tempat kerja dan aku sedang mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa aku kuat dan mampu dari apa yang aku bayangkan.'

Idealnya seharusnya kita memberikan lebih banyak ruang untuk menenangkan daripada melakukan perdebatan; alih-alih mengajak debat pasangan kita akan sesuatu hal yang menjengkelkan yang mereka katakan, cobalah bayangkan mereka seperti layaknya seorang anak kecil yang sedang gelisah dan kebingungan, yang sedang mencaci maki orang yang paling mereka cintai karena mereka tidak tahu dan tidak bingung hal apa lagi yang harus dilakukan. Berusahalah untuk meyakinkan dan menunjukkan kepada mereka bahwa semuanya masih baik-baik saja.

Tentu saja, jauh lebih sulit bersikap dewasa di depan orang dewasa yang mengekspos 'inner child' mereka daripada bersama anak kecil yang sesungguhnya. Hal itu dikarenakan kita dapat melihat betapa lucu dan imutnya anak kecil - sehingga rasa simpati kita akan muncul secara alami. Kita semua tentu saja mengerti bahwa akan menjadi suatu malapetaka besar bilamana kita tiba-tiba memaksa dan mencoba membuat seorang anak kecil untuk bertanggung jawab penuh atas setiap perbuatan yang mereka lakukan, dan tentu saja dari pandangan psikologi hal ini bukanlah sesuatu yang tepat

Kita semua saat ini sangat berpegang teguh dengan sebuah prinsip yang mengatakan bahwa terkesan merendahkan bila kita menganggap orang lain seperti anak kecil; namun kita lupa bahwa itu akan menjadi suatu keistimewaan bagi seseorang bila mereka mampu melihat lebih jauh dalam diri seseorang yang guna untuk merangkul, dan juga tentu saja untuk memaafkan, seorang anak kecil yang sedang kecewa, marah, kebingungan ataupun terluka di dalam diri seseorang.

Monday, 21 November 2016

Mirrors Show Both Beauty and Ugliness Exactly as They Are



oke setelah sekian lama akhirnya kedapatan ide lagi buat nulis sesuatu di blog. and yes it will about L-O-V-E.

jadi akhir-akhir ini saya ada jatuh cinta dengan seorang wanita (aw yisss). gangerti jatuh cinta beneran apa sekedar syahwat saja. tapi bukan, bukan itu bahasan kali ini. eh tapi bahasan difference between love and lust bisa jadi topik menarik nih fix masuk to-write list ahay.

yak jadi sampai saat detik ini saya sedang jatuh cinta dengan seseorang, gangerti suka gara-gara apa, tapi kalo dipikir sih suka gara-gara dianya canti sih.. (halah basi giv, klise, ga jaman mah jatuh cinta gara-gara fisik, liat dalemnya dong) oke-oke next time w coba ga gampang-gampang suka orang deh, dan w tau jatuh cinta karena fisik itu biasanya karena emang udah ga jaga pandangan, dan w juga tau jatuh cinta karena fisik atau kecantikan is just wrong in many ways. i'll get better!

oke setelah mengemban perasaan (mengemban? man vocab w lemah bingits) ini detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, abad demi abad yha. tentu saja saya akan tanpa sadar melihat lika-liku hidup si doi dikesehariannya, dan setelah melihat kesehariannya sehari-hari ooohhh meennn sesuatu hal terjadi!!!!!! whaaatt!!! ternyata dia... makin cantik















pls














yha












ternyata si doi ga ngejaga batasan antara cowok-cewek. yhaa masi biasa-biasa berinteraksi dengan lawan, padahal awal-awal suka si doi juga karena kelihatannya menjaga bener-bener tentang hal ini dan wahh jos sekali pokoknya bener-bener menjaga dirinya, tapi lambat laun si doi berubah hikss.. yes people change, and they have a reason of their changes. dan yg paling bodoh sih, w cemburu hahahaahahahahahahha. padahal bukan siapa-siapanya tapi cemburu hiksss  plis jangan ketawain w, dan saya tahu 99 persen kalian pasti pernah cemburu dengan seseorang padahal you you pada bukan siapa-siapanya hahaha. biasa mah di dunia percintaan. semoga balik lagi lahh si doi ke bentuk yg dulu bener-bener w kagumi. aamiinn.

daaaannn.... setelah w perahatiin lagi... w perhatiin lagiiii.. w perhatiinn lagiiiiii.... yak ternyata saya sendiri juga belum ,bukan belum malah, ga sama sekali mah ini, ya saya ga sama sekali menjaga batasan saya antara cowok-cewek juga. oooooohhhh meennnnn!!! you are so stupid givary. jujur masih sering kelewatan batas kalo ngomong sama cewek hikssss. mengerikan sekali kalo dapet pasangan yg tidak menjaga batasan dengan lawan jeniss. wahhh bisa makan ati tiap hari mahhh. dan ternyata saya juga bisa buat pasangan w makan ati jugaaa, so that's why from this time i will try to fix myself about this things for the sake of getting a good partner. masih belom terlambat! janur kuning belum melungkung! masih ada kesempatan untuk berubah! dan dapet jodoh yg lebih baik dari yg sekarang! (tapi kalo dijodohin sama yg sekarang juga gapapa sih)

jadi mulai sekarang mau batasin interaksi sama lawan jenis biar dapet jodoh yg menjaga batasannya juga. yaayyyy. dan juga mendundukan pandangan!!!! ini yg penting sih. dan juga kalo dipikir-pikir ada benernya juga quote-quote yang sering jadi profil picture akun-akun sosmed, jodoh adalah cerminan dirimu sendiri. 

but..... i will try to forget her too! because i know this is wrong for loving someone in this state. i'm certainly not ready for marrying a girl, even i got no balls to come to her father, for now. so it's just stupid to fall in love with my current condition. so in this phase i'll just making myself way better from now, when i'm mentally and emotionally ready, financially stable, and my deen knowledge at it's best, and that's when it would be a good time to fall in love with someone, i'll straight making a keen maneuver to her... and to her father too haha. but what if the girl you love right now is married with someone else, meennn that would be the saddest part. but that's also will be the best part, knowing god will give you someone better because you let her go sincerely.

okeee panjang juga nih tulisan saya biar ga tamba panjang langsung kita tutup! wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh!























p.s w kangen dirimu yg dulu, yg dulu u selalu menutupi wajahmu dari pandangan hina kaum adam, juga dari pandangan kotor diriku. ohhh i miss the old days.

Wednesday, 8 June 2016

Prolog


Kadang gue merasa gemas bercampur kagum dengan mereka-mereka yang pinteeeerr banget buat tulisan, khususnya nulis di blog. pertanyaan yg selalu muncul dalam benak gue "ni orang makan apasih bisa keren gini?"

Sebentar-sebentar.. disini gue pake kata "gue" bukan bermaksud kejakarta2an atau kekini2an, it is just because it sounds fit.

Oke. Setelah melewati beberapa fase kehidupan, akhirnya terlintas dalam kepala gue "ah mau go blog juga ah". walaupun kedengarannya aneh, dengan go blog gue akan mulai banyak membuat tulisan-tulisan lewat blog, yang mungkin isinya tidak penting dan hanya sekedar curahan hati dan pikiran gue. Ga cuman curhatan dan isi pikiran doang sih, milestone-milestone dalam kehidupan juga bakal jadi ide tulisan seru untuk dikenang.

Kadang masih nyesel sih ga nge-blog dari dulu-dulu soalnya buanyaak momen-momen “Telalu Manis Untuk Dilupakan” yang perlu diabadikan di internet :’) masa-masa indah SMA, waktu liburan sekeluarga,  jaman-jaman kuliah, penmas, waktu sunat. Tapi emang penyesalan itu datengnya selalu terakhir, ya supaya kita semua bisa ngambil pelajaran dari apa yang kita sesalkan. Biar ga jatuh di lubang yang sama. Gitu.

YAAAAKKK memasuki paragraf terakhir di tulisan pertama sayaa, memang ya bagian tersulit dalam melalukan sesuatu itu adalah memulainya, eh ga juga ding lebih tepatnya “mencoba”. Kalo dipikir-pikir ada benernya juga quote-quote yang sering jadi profil picture akun-akun sosmed, if you never try you’ll never know.

Iya-iya, sekarang yang ini beneran dehhh paragraf terakhirrr. Yak, semoga allah azza wajalla selalu memberikan kita semua kemudahan untuk bisa menginspirasi orang lain kepada kebaikan yaa amiinn. Okayyy brace yourself everybodehhhh :*