Pernah ngga sih sewaktu pasangan atau orang di sekitar kita berperilaku buruk, kita langsung mengasumsikan kalau mereka itu sedang mencoba untuk menyakiti kita, mereka itu dengan sengaja berusaha untuk menghancurkan hidup kita, mereka bodoh, mereka sudah lama hanya mempermainkan kita. Kalau aku pernah sih.
Menariknya nih, anak kecil tuh tekadang juga sering berperilaku buruk bahkan dengan cara yang lebih menjengkelkan seperti: melempar-lempar barang, teriak-teriak, memukul dan bahkan sampai melontarkan kata-kata yang buruk. Namun, respons kita terhadap hal ini sangatlah unik yaitu: kita tetap tenang. Kita dengan lembut menangani kekacauan ini. Kita cenderung dan hampir secara tidak sadar, bertanya pada diri kita sendiri lima pertanyaan:
1. Mungkinkah mereka lelah?
2. Mungkinkah mereka lapar?
3. Mungkinkah mereka sedang sedih?
4. Mungkinkah seseorang menyakiti mereka?5. Mungkinkah mereka membutuhkan pelukan?
Seberapa sering kita bersikap seperti ini ketika kita bersama sesama teman atau sesama orang dewasa, dan kepada pasangan kita pada khususnya. Biasanya kita langsung mengasumsikan mengapa mereka melakukan hal yang buruk: karena mereka adalah orang yang tidak baik, mereka berusaha menghancurkan kita, mereka membenci kita. Tetapi jika kita menggunakan cara yang sama seperti kita menginterpretasi sikap buruk anak kecil, kita akan melakukan sesuatu yang sangat berbeda. Sebelum mengasumsikan suatu hal, bertanyalah pada diri sendiri kita sendiri lima pertanyaan yang sama:
1. Mungkinkah mereka lelah?
2. Mungkinkah mereka lapar?
3. Mungkinkah mereka sedang sedih?
4. Mungkinkah seseorang menyakiti mereka?
5. Mungkinkah mereka membutuhkan pelukan?
5. Mungkinkah mereka membutuhkan pelukan?
Epik banget kalau mengingat bahwasanya kita hidup di dunia dimana kita terajarkan untuk menjadi begitu baik terhadap anak-anak; tentu saja akan lebih baik pula bila kita juga mencoba belajar untuk sedikit lebih bermurah hati terhadap sikap kekanak-kanakan orang lain.
Kedengarannya aneh emang pada awalnya, namun perlu kita ingat bahwa sebenarnya tidak ada orang dewasa yang benar-benar dewasa, selalu ada sisi kekanak-kanakan dalam diri mereka. Tetapi dengan melihat seseorang dengan pandangan seperti ini, mungkin, ini merupakan cara yang ampuh untuk membantu kita dalam menghadapi keburukan dari sikap orang lain.
Ketika orang-orang berperilaku jauh dari apa yang kita harapkan, kita langsung melabel sikap mereka dengan kata 'childish' namun justru tanpa sadar kita akan mengerti bahwa sikap 'childish' adalah sikap yang lazim ditemukan pada semua umat manusia.
Berbijaksana terhadap 'inner child' orang lain bukan berarti memperlakukan mereka seperti anak kecil. Berbijaksana berarti, dengan hati yang lembut, menerjemahkan hal-hal yang mereka katakan menjadi arti yang lebih dalam seperti: 'Brengsek ya kamu' sebenarnya bisa saja menjadi cara mereka untuk mencoba mengatakan 'Aku merasa jenuh di tempat kerja dan aku sedang mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa aku kuat dan mampu dari apa yang aku bayangkan.'
Idealnya seharusnya kita memberikan lebih banyak ruang untuk menenangkan daripada melakukan perdebatan; alih-alih mengajak debat pasangan kita akan sesuatu hal yang menjengkelkan yang mereka katakan, cobalah bayangkan mereka seperti layaknya seorang anak kecil yang sedang gelisah dan kebingungan, yang sedang mencaci maki orang yang paling mereka cintai karena mereka tidak tahu dan tidak bingung hal apa lagi yang harus dilakukan. Berusahalah untuk meyakinkan dan menunjukkan kepada mereka bahwa semuanya masih baik-baik saja.
Tentu saja, jauh lebih sulit bersikap dewasa di depan orang dewasa yang mengekspos 'inner child' mereka daripada bersama anak kecil yang sesungguhnya. Hal itu dikarenakan kita dapat melihat betapa lucu dan imutnya anak kecil - sehingga rasa simpati kita akan muncul secara alami. Kita semua tentu saja mengerti bahwa akan menjadi suatu malapetaka besar bilamana kita tiba-tiba memaksa dan mencoba membuat seorang anak kecil untuk bertanggung jawab penuh atas setiap perbuatan yang mereka lakukan, dan tentu saja dari pandangan psikologi hal ini bukanlah sesuatu yang tepat
Kita semua saat ini sangat berpegang teguh dengan sebuah prinsip yang mengatakan bahwa terkesan merendahkan bila kita menganggap orang lain seperti anak kecil; namun kita lupa bahwa itu akan menjadi suatu keistimewaan bagi seseorang bila mereka mampu melihat lebih jauh dalam diri seseorang yang guna untuk merangkul, dan juga tentu saja untuk memaafkan, seorang anak kecil yang sedang kecewa, marah, kebingungan ataupun terluka di dalam diri seseorang.


